Selasa, 24 Maret 2015

Tabligh kemudian Tarbiyah (Bag-1)

Mulailah sang Guru bekerja. Ia memilih tiga buah kedai yang cukup besar dan mampu menampung ribuan orang. MAsing-masing dari tiga kedai itu dia ISI DENGAN CERAMAH DUA KALI SEPEKAN. Awalnya, BENTUK CERAMAH DAN PENGAJARAN AGAMA semacam ini tampak aneh dan asing di mata orang pada umumnya. Namun akhirnya mereka pun dapat menerimanya.

Ia benar-benar menggunakan CARA YANG UNIK DAN BARU DALAM MENUNAIKAN MISI DAKWAH INI. Dengan seksama IA MENGUPAS TEMA-TEMA POKOK YANG BERSIFAT UMUM: MENGINGATKAN MANUSIA KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIR SERTA MENYAMPAIKAN TARGHIB (KABAR GEMBIRA) DAN TARHIB (PERINGATAN). IA TIDAK MAU MENCELA, MENGHUJAT, ATAU MENYINDIR SANA-SINI. TIDAK JUGA MENANGGAPI BERBAGAI KEMUNGKARAN DAN DOSA YANG DILAKUKAN OLEH PARA PENGUNJUNG DENGAN MENCELA DAN MENCACI MAKI. Ia berusaha menggunakan CARA DAN GAYA YANG MUDAH, MENARIK, SERTA DAPAT DITERIMA SECARA UMUM, DENGAN DIBUMBUI BERBAGAI ILUSTRASI DAN KISAH-KISAH. IA BERUPAYA AGAR APA YANG DISAMPAIKAN (TABLIGHKAN) BISA BENAR-BENAR BERKESAN.

Demikianlah, ia selalu berupaya untuk dapat menarik hati mereka serta membangkitkan keinginan dan kerinduan mereka pada apa yang ia ceramahkan. Ia tidak mau berpanjang-panjang dalam menyampaikan ceramah karna khawatir dapat menjenuhkan; biasanya hanya sepuluh menit, dan paling lama lima belas menit. Sekalipun waktunya sesingkat itu, ia BERUPAYA KERAS UNTUK DAPAT DIPAHAMI DENGAN JELAS OLEH PARA PENDENGAR. Dalam menyampaikan ayat maupun hadis, ia memilih yang paling pas untuk mereka; ia baca dengan khusyu dan ia jauhi penafsiran-penafsiran dengan berbagai istilah serta komentar-komentar yang hanya bersifat retorika belaka. Cukuplah ia sampaikan MAKNA-MAKNANYA SECARA GLOBAL UNTUK MEMPERJELAS, LALU MENGUTARAKAN BUKTI-BUKTI KONKRET YANG KIRANYA LEBIH MEMPERTEGAS MAKNA.

Cara yang ia tempuh ini dapat memberi pengaruh positif bagi masyarakat. Orang-orang pun mulai memperbincangkannya dan bertanya-tanya. Nasihat melalui CERAMAH ini ternyata dapat menembus jiwa para pendengar, khususnya mereka yang tekun hadir. MEREKA MULAI SADAR DAN BERFIKIR. Selanjutnya, secara bertahap mereka mulai MENANYAKAN tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dalam rangka menunaikan hak-hak Allah yang ada pada mereka, dan dalam rangka MENUNAIKAN KEWAJIBAN MEREKA ATAS AGAMA DAN UMATNYA. Selain juga agar mereka dapat selamat dari adzab neraa dan dapat terjamin memperoleh keberuntungan nikmat ibadah. Mulailah ia menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban-jawaban yang tidak dogmatis unuk menarik perhatian mereka, MENGGUGAH HATI MEREKA, JUGA UNTUK MENGGANGGU KESEMPATAN YANG TEPAT, SERTA UNTUK MENYIAPKAN JIWA YANG TEGAS.

As-Sayid Ahmad Al-Badawi

As Sayid Ahmad Al-Badawi adalah seorang wali yang mulia, bertaqwa, shalih, berilmu, dan mempunyai banyak kelebihan. Ia datang ke Mesir dari negeri hijrahnya, Makkah. Keluarga beliau berasal dari Maroko. Ketika beliau tiba di Mesir, negeri ini berada di bawah kekuasaan mamalik. Kepemimpinan Mamalik tentu tidak sah karena mereka bukan orang-orang merdeka (kata 'mamalik' jamak dari kata mamluk, yakni budak), sementara beliau adalah seorang Sayid Alawi yang memiliki trah mulia, ilmu, dan derajat kewalian. Sementara itu, kekhalifahan Abbasiyah sudah runtuh dan riwayatnya di Baghdad telah tamat. Umat Islam pecah menjadi berbagai daulah kecil yang dikendalikan oleh para umara yang menguasai daulah-daulah itu dengan 'kekuatan'. Di antaranya adalah kaum Mamalik itu. Di sana terdapat dua tugas yang menjadikan As Sayid Ahmad Badawi berjihad demi menunaikan kewajiban: mengembalikan kekhalifahan dan melepaskan kekuasaan negara dari tangan-tangan kaum Mamalik, karena kekuasaan mereka tidak sah.


Bagaimana ia harus melakukan hal ini? Harus ada perencanaan yang matang. Ia mengumpulkan beberapa orang kepercayaan dan para penasehatnya, di antaranya adalah As Sayid Mujahid dan As Sayid Abdul Ali. Mereka bersepakat menyebarluaskan dakwah yang menghimpun orang banyak untuk melakukan dzikir dan tilawah. Ketika orang-orang telah berhimpun untuk berdzikir dan mempelajari hukum-hukum agama, mereka baru dapat merasakan dan mengetahui adanya kerusakan dalam pemerintahan dan lenyapnya kekahalifahan di dalam masyarakat mereka (masyarakat Islam). Akhirnya semangat keagamaan mereka pun tumbuh dan mereka mulai meyakini akan wajibnya beramar maruf dan nahi munkar, sampai kepada jihad untuk membangun kembali kondisi umat yang sudah rusak ini.


Mereka setiap tahunnya berkumpul. As Sayid Ahmad Al Badawi memilih kota Thanta sebagai pusat pergerakan karena letaknya di antara banyak kota yang masih 'ramah' dan jauh dari hiruk pikuk pusat pemerintahan. Ketika para peserta mengadakan pertemuan tahunan dalam bentuk semacam peringatan maulid, maka ia dapat menyimpulkan sudah sejauhmanakah dakwah yang dilakukannya itu memberi pengaruh kepada umat manusia. Demikianlah dakwah ini menyebar secara luas hingga berhasil mengumpulkan pengikut yang cukup banyak.


Akan tetapi keadaan tidak mendukung keberhasilan gerakan ini. Mesir selanjutnya dikuasai oleh Zhahir Bibers Al bandaqdari. Ia berhasil mengalahkan tentara salib beberapa kali dan berhasil mengalahkan pasukan Tartar bersama Mudzafar Qathaz. Namanya pun berkibar dan disukai rakyat. Tidak hanya itu, bahkan salah seorang dari putra Abbasiyah membai'atnya sebagai khalifah. Dia akhirnya mematikan proyek ini dari pangkalnya. Tidak hanya berhenti di situ, ia jug amembangun hubungan politik yang baik dengan As Sayid Al Badawi, mengangkat kedudukannya, serta mempercayakan kepadanya untuk menjadi penanggungjawab pembagian tawanan perang ketika meraih kemenangan dari negeri musuh, karena hal ini mengandung arti penghormatan dan pemuiaan kepadanya. Semua ini terjadi sebelum selesainya proyek yang sangat berarti ini. Pemerintahan ini terus berlanjut di tangan Mamalik dan terus jaya di tangannya.