Selasa, 19 April 2011

Nasihat Habib Umar Al-Atthas tentang Lingkungan

Meski dikenal sebagai orang alim yang biasa bergelut dengan ilmu, ternyata Habib umar juga sangat peduli terhadap masalah perkebunan. Dalam berbagai kesempatan, sang wali menyuruh orang-orang untuk memperbaiki cara pengairan sawah ladang. Habib Umar amat senang kepada orang-orang yang suka mengairi sawah ladangnya dengan baik. Dan untuk itu beliau selalu mendoakan kebajikan bagi mereka. Bagi Habib Umar, selain merupakan ungkapan rasa syukur atas anugerah Allah berupa tanaman, rajin mengairi sawah juga merupakan wujud kasih sayang terhadap sesama makhluk.
Selain itu Habib Umar juga selalu menganjurkan orang untuk rajin menanam pohon kurma. Desa Andal dan Al-Qasar, misalnya, dikenal banyak menghasilkan buah kurma, antara lain karena seringnya sang wali menganjurkan orang untuk menanamnya. Hebatnya, tak sekedar menagnjurkan menanam, biasanya Habib umar juga selalu berpesan untuk memberi jarak sepuluh langkah atau lima belas langkah antara satu pohon kurma dan lainnya, agar masing-masing pohon mendapat asupan air yang cukup.
Selain terhadap tumbuhan, Habib Umar juga dikenal sangat peduli kepada binantang peliharaan. Setiap habis bepergian, ia selalu masuk ke dapur dan menanyakan sisa makanan untuk diberikan kepada keledainya. Ia juga melarang dengan keras pemukulan terhadap hewan, meski tengah bekerja atau bahkan ketika mogok berjalan.
Suatu ketika, ada seorang laki-laki dari Lahrum menghadap Habib Umar. Dia dikenal biasa menggiring ternak sambil memukulinya dengan keras. ketika dia hendak menjabat tangan Habib Umar, sang wali langsung menarik tangannya. "Aku tidak mau berjabat tangan denganmu karena tanganku sedang sakit." kata Habib Umar.
Laki-laki itu pun bertanya, "sakit karena apa, wahai Imam?"
"Rasa sakit ini berasal dari pukulanmu terhadap binatang-binatang ternakmu."
Seketika orang itu terduduk dan meminta maaf kepada Habib Umar. sang wali memaafkannya dan menasihatinya agar ia tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Habib Umar Al-Atthas wafat pada tengah malam kamis, 23 Rabiul Akhir 1072 H, di Desa Nafhun. Jenazahnya dibawa kembali ke desa Huraidhah dan di makamkan pada Kamis Sore.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda