Makna Tasawuf
Abu Bakar Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya'qub Al-Kalabadzi berkata : ' .... namun jika asal kata shuf (bulu domba) diterima, kata itu tepat, karena memiliki semua makna yang diperlukan seperti mengelak dari dunia, cenderung menjauhkan jiwa darinya, meninggalkan segala permukiman yang telah mapan, terus menerus melakukan pengembaraan, menolak kesenangan-kesenangan jasmani, memurnikan tingkah laku, membersihkan kesadaran, meluaskan dada dan sifat kepemimpinan.
Sedangkan Bundar bin Al-Husain berkata, 'Sufi adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk diri-Nya sendiri, diberi kasih sayang tulus (shafa) dan dibebaskan dari yang bersifat jasmani, serta tidak diperkenankan berusaha melakukan segala yang meletihkan atas dalih apapun. maka dia dilindungi (shufi); sebagai perbandingan, orang bisa menyitir 'ufi (dia dijaga), yaitu bahwa Tuhan telah menjaganya, maka dia terjaga; kufi (dia diberi imbalan), yaitu bahwa Tuhan telah memberi imbalan kepadanya, maka dia menerima balas jasa; dan juzi (dia diberi pahala), yaitu bahwa Tuhan telah memberi pahala kepadanya, maka dia menerima pahala. Yang telah dilakukan oleh Tuhan atas dirinya mengejawantah dalam namanya, meskipun Tuhan sama sekali tidak tergantung padanya.'
Abu Ali Ar-Rudzabari, ketika ditanya tentang sufi, menjawab, 'Orang yang menutupkan bulu domba atas kemurnian(nya), menganggap nafsunya sebagai tiran, dan setelah menjauhi dunia, berjalan di jalan manusia terpilih.'
Sedang Sahl ibn Abdillah At-Tustari memberikan jawaban sebagai berikut, 'Orang yang bersih dari ketidakmurnian dan selalu merenung, yang terputus hubungan dengan manusia lain demi mendekati Tuhan, dan yang di matanya emas dan lumpur sama nilainya.'
Abul Hasain An-Nuri, ketika ditanya apakah tasawuf, menjawab, 'Meninggalkan segala yang bersifat jasmani.'
Sementara menurut Al-Junaid, 'Tasawuf berarti memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiah, menekan sifat-sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruh, mengingatkan diri pada ilmu-ilmu tentang hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal, menasihati seluruh umat, sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan mengikuti syariah Nabi.'
Yusuf ibn al-Husain berkata, 'Dalam setiap umat ada kelompok terpilih, dan merekalah wakil Tuhan, disembunyikan oleh-Nya dari makhluk-Nya yang lain. Orang semacam inilah yang dinamakan sufi.'
Seseorang berkata kepada sahl At-Tustari, 'Di antara berbagai kelompok manusia ini, dengan siapa saya harus berhubungan?' Menurut dia, 'Tak ada yang mereka anggap tak adapat diterima, mereka memberikan penafsiran ruhaniah (ta'wil) atas setiap tindakan, dan mereka akan memaafkanmu atas segala kekuranganmu, bagaimanapun hal (keadaan)-mu.'
Yusuf ibn Al-Husain bercerita, ia bertanya kepada dzun Nun tentang siapa itu sufi. Jawabannya, 'Orang yang tidak memiliki apa-apa, dan tidak mencelamu bagaimanapun keadaanmu, yang tidak berubah ketika kamu berubah, meskipun perubahan itu besar, sebab semakin kamu berubah semakin kamu memerlukan dia.'
Dzun Nun juga berkata, 'Aku melihat seorang wanita di salah sebuah pantai Syiria, dan aku berkata kepadanya, 'Darimana asalmu (semoga tuhan melimpahkan kasih-Nya padamu)?' Ia menyahut, 'Dari orang-orang yang panggulnya (pangkal paha) jauh dari ranjang.' Aku berkata, 'Dan kemana tujuanmu?' Dia menjawab, 'Mencari manusia-manusia yang tiada dirintangi oleh kegiatan niaga, tidak pula oleh kegiatan dagang dalam mengingat Allah.' (QS. Nur, 24:37)
Sedangkan Bundar bin Al-Husain berkata, 'Sufi adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk diri-Nya sendiri, diberi kasih sayang tulus (shafa) dan dibebaskan dari yang bersifat jasmani, serta tidak diperkenankan berusaha melakukan segala yang meletihkan atas dalih apapun. maka dia dilindungi (shufi); sebagai perbandingan, orang bisa menyitir 'ufi (dia dijaga), yaitu bahwa Tuhan telah menjaganya, maka dia terjaga; kufi (dia diberi imbalan), yaitu bahwa Tuhan telah memberi imbalan kepadanya, maka dia menerima balas jasa; dan juzi (dia diberi pahala), yaitu bahwa Tuhan telah memberi pahala kepadanya, maka dia menerima pahala. Yang telah dilakukan oleh Tuhan atas dirinya mengejawantah dalam namanya, meskipun Tuhan sama sekali tidak tergantung padanya.'
Abu Ali Ar-Rudzabari, ketika ditanya tentang sufi, menjawab, 'Orang yang menutupkan bulu domba atas kemurnian(nya), menganggap nafsunya sebagai tiran, dan setelah menjauhi dunia, berjalan di jalan manusia terpilih.'
Sedang Sahl ibn Abdillah At-Tustari memberikan jawaban sebagai berikut, 'Orang yang bersih dari ketidakmurnian dan selalu merenung, yang terputus hubungan dengan manusia lain demi mendekati Tuhan, dan yang di matanya emas dan lumpur sama nilainya.'
Abul Hasain An-Nuri, ketika ditanya apakah tasawuf, menjawab, 'Meninggalkan segala yang bersifat jasmani.'
Sementara menurut Al-Junaid, 'Tasawuf berarti memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiah, menekan sifat-sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruh, mengingatkan diri pada ilmu-ilmu tentang hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal, menasihati seluruh umat, sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan mengikuti syariah Nabi.'
Yusuf ibn al-Husain berkata, 'Dalam setiap umat ada kelompok terpilih, dan merekalah wakil Tuhan, disembunyikan oleh-Nya dari makhluk-Nya yang lain. Orang semacam inilah yang dinamakan sufi.'
Seseorang berkata kepada sahl At-Tustari, 'Di antara berbagai kelompok manusia ini, dengan siapa saya harus berhubungan?' Menurut dia, 'Tak ada yang mereka anggap tak adapat diterima, mereka memberikan penafsiran ruhaniah (ta'wil) atas setiap tindakan, dan mereka akan memaafkanmu atas segala kekuranganmu, bagaimanapun hal (keadaan)-mu.'
Yusuf ibn Al-Husain bercerita, ia bertanya kepada dzun Nun tentang siapa itu sufi. Jawabannya, 'Orang yang tidak memiliki apa-apa, dan tidak mencelamu bagaimanapun keadaanmu, yang tidak berubah ketika kamu berubah, meskipun perubahan itu besar, sebab semakin kamu berubah semakin kamu memerlukan dia.'
Dzun Nun juga berkata, 'Aku melihat seorang wanita di salah sebuah pantai Syiria, dan aku berkata kepadanya, 'Darimana asalmu (semoga tuhan melimpahkan kasih-Nya padamu)?' Ia menyahut, 'Dari orang-orang yang panggulnya (pangkal paha) jauh dari ranjang.' Aku berkata, 'Dan kemana tujuanmu?' Dia menjawab, 'Mencari manusia-manusia yang tiada dirintangi oleh kegiatan niaga, tidak pula oleh kegiatan dagang dalam mengingat Allah.' (QS. Nur, 24:37)

