Kamis, 21 April 2011

Makna Tasawuf

Abu Bakar Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya'qub Al-Kalabadzi berkata : ' .... namun jika asal kata shuf (bulu domba) diterima, kata itu tepat, karena memiliki semua makna yang diperlukan seperti mengelak dari dunia, cenderung menjauhkan jiwa darinya, meninggalkan segala permukiman yang telah mapan, terus menerus melakukan pengembaraan, menolak kesenangan-kesenangan jasmani, memurnikan tingkah laku, membersihkan kesadaran, meluaskan dada dan sifat kepemimpinan.
Sedangkan Bundar bin Al-Husain berkata, 'Sufi adalah orang yang dipilih oleh Tuhan untuk diri-Nya sendiri, diberi kasih sayang tulus (shafa) dan dibebaskan dari yang bersifat jasmani, serta tidak diperkenankan berusaha melakukan segala yang meletihkan atas dalih apapun. maka dia dilindungi (shufi); sebagai perbandingan, orang bisa menyitir 'ufi (dia dijaga), yaitu bahwa Tuhan telah menjaganya, maka dia terjaga; kufi (dia diberi imbalan), yaitu bahwa Tuhan telah memberi imbalan kepadanya, maka dia menerima balas jasa; dan juzi (dia diberi pahala), yaitu bahwa Tuhan telah memberi pahala kepadanya, maka dia menerima pahala. Yang telah dilakukan oleh Tuhan atas dirinya mengejawantah dalam namanya, meskipun Tuhan sama sekali tidak tergantung padanya.'
Abu Ali Ar-Rudzabari, ketika ditanya tentang sufi, menjawab, 'Orang yang menutupkan bulu domba atas kemurnian(nya), menganggap nafsunya sebagai tiran, dan setelah menjauhi dunia, berjalan di jalan manusia terpilih.'
Sedang Sahl ibn Abdillah At-Tustari memberikan jawaban sebagai berikut, 'Orang yang bersih dari ketidakmurnian dan selalu merenung, yang terputus hubungan dengan manusia lain demi mendekati Tuhan, dan yang di matanya emas dan lumpur sama nilainya.'
Abul Hasain An-Nuri, ketika ditanya apakah tasawuf, menjawab, 'Meninggalkan segala yang bersifat jasmani.'
Sementara menurut Al-Junaid, 'Tasawuf berarti memurnikan hati dari berhubungan dengan makhluk-makhluk lain, meninggalkan sifat-sifat alamiah, menekan sifat-sifat manusiawi, menghindari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruh, mengingatkan diri pada ilmu-ilmu tentang hakikat, mengumpulkan segala sesuatu untuk masa yang kekal, menasihati seluruh umat, sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan mengikuti syariah Nabi.'
Yusuf ibn al-Husain berkata, 'Dalam setiap umat ada kelompok terpilih, dan merekalah wakil Tuhan, disembunyikan oleh-Nya dari makhluk-Nya yang lain. Orang semacam inilah yang dinamakan sufi.'
Seseorang berkata kepada sahl At-Tustari, 'Di antara berbagai kelompok manusia ini, dengan siapa saya harus berhubungan?' Menurut dia, 'Tak ada yang mereka anggap tak adapat diterima, mereka memberikan penafsiran ruhaniah (ta'wil) atas setiap tindakan, dan mereka akan memaafkanmu atas segala kekuranganmu, bagaimanapun hal (keadaan)-mu.'
Yusuf ibn Al-Husain bercerita, ia bertanya kepada dzun Nun tentang siapa itu sufi. Jawabannya, 'Orang yang tidak memiliki apa-apa, dan tidak mencelamu bagaimanapun keadaanmu, yang tidak berubah ketika kamu berubah, meskipun perubahan itu besar, sebab semakin kamu berubah semakin kamu memerlukan dia.'
Dzun Nun juga berkata, 'Aku melihat seorang wanita di salah sebuah pantai Syiria, dan aku berkata kepadanya, 'Darimana asalmu (semoga tuhan melimpahkan kasih-Nya padamu)?' Ia menyahut, 'Dari orang-orang yang panggulnya (pangkal paha) jauh dari ranjang.' Aku berkata, 'Dan kemana tujuanmu?' Dia menjawab, 'Mencari manusia-manusia yang tiada dirintangi oleh kegiatan niaga, tidak pula oleh kegiatan dagang dalam mengingat Allah.' (QS. Nur, 24:37)

Selasa, 19 April 2011

Nasihat Habib Umar Al-Atthas tentang Lingkungan

Meski dikenal sebagai orang alim yang biasa bergelut dengan ilmu, ternyata Habib umar juga sangat peduli terhadap masalah perkebunan. Dalam berbagai kesempatan, sang wali menyuruh orang-orang untuk memperbaiki cara pengairan sawah ladang. Habib Umar amat senang kepada orang-orang yang suka mengairi sawah ladangnya dengan baik. Dan untuk itu beliau selalu mendoakan kebajikan bagi mereka. Bagi Habib Umar, selain merupakan ungkapan rasa syukur atas anugerah Allah berupa tanaman, rajin mengairi sawah juga merupakan wujud kasih sayang terhadap sesama makhluk.
Selain itu Habib Umar juga selalu menganjurkan orang untuk rajin menanam pohon kurma. Desa Andal dan Al-Qasar, misalnya, dikenal banyak menghasilkan buah kurma, antara lain karena seringnya sang wali menganjurkan orang untuk menanamnya. Hebatnya, tak sekedar menagnjurkan menanam, biasanya Habib umar juga selalu berpesan untuk memberi jarak sepuluh langkah atau lima belas langkah antara satu pohon kurma dan lainnya, agar masing-masing pohon mendapat asupan air yang cukup.
Selain terhadap tumbuhan, Habib Umar juga dikenal sangat peduli kepada binantang peliharaan. Setiap habis bepergian, ia selalu masuk ke dapur dan menanyakan sisa makanan untuk diberikan kepada keledainya. Ia juga melarang dengan keras pemukulan terhadap hewan, meski tengah bekerja atau bahkan ketika mogok berjalan.
Suatu ketika, ada seorang laki-laki dari Lahrum menghadap Habib Umar. Dia dikenal biasa menggiring ternak sambil memukulinya dengan keras. ketika dia hendak menjabat tangan Habib Umar, sang wali langsung menarik tangannya. "Aku tidak mau berjabat tangan denganmu karena tanganku sedang sakit." kata Habib Umar.
Laki-laki itu pun bertanya, "sakit karena apa, wahai Imam?"
"Rasa sakit ini berasal dari pukulanmu terhadap binatang-binatang ternakmu."
Seketika orang itu terduduk dan meminta maaf kepada Habib Umar. sang wali memaafkannya dan menasihatinya agar ia tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Habib Umar Al-Atthas wafat pada tengah malam kamis, 23 Rabiul Akhir 1072 H, di Desa Nafhun. Jenazahnya dibawa kembali ke desa Huraidhah dan di makamkan pada Kamis Sore.

Nasihat Al-Ju'i

Qasim bin Utsman Al-Ju'i, seorang wali besar dari Damaskus mengatakan: "Lakukanlah lima hal ini tanpa kehadiran orang lain dalam kehidupanmu. Pertama, apabila kamu berada di tengah orang-orang, jangn ingin dikenal. Kedua, apabila kamu tidak hadir ditengah banyak orang, jangan ingin dirindukan. Ketiga, apabila kamu mengetahui sesuatu (berilmu), anggaplah nasihatmu tak diharapkan. Keempat, apabila kamu mengatakan sesuatu, tolaklah kata-katamu. Kelima, apabila kamu mengerjakan sesatu, jangan mau menerima pujian untuk itu."
Beliau juga mengatakan, "Dan aku juga menasihati lima hal lainnya. Pertama, apabila kamu diperlakukan tidak adil, jangan membalas. Kedua, Apabila kamu dipuji, jangan merasa senang. Ketiga, apabila kamu disalahkan, jangan berputus asa. Keempat, apabila kamu disebut pembohong, jangan marah. Kelima, Apabila kamu dikhianati, jangan balas mengkhianati."